Jan 21 2012
Cara mudah memilih calon istri
Penulis : amy sidra
Dibaca : 1,501 kali
Mungkin judul diatas terlihat muluk-muluk karena satu alasan : YANG NULIS AJA BELUM NIKAH! But no problem. Walaupun ana belum nikah tapi ilmu sudah ada hanya tinggal nunggu waktu pengamalan saja. Oke deh…
Kalau kita berbicara masalah memilih istri, pasti berhubungan erat dengan alasan-alasan menikahi seorang wanita.
Dan ana yakin para pembaca juga sudah tahu hadis tentang alasan seseorang menikahi wanita.
Tapi yang ingin ana paparkan ini adalah pemahaman ana tentang hadis ini. BUKAN PEMAHAMAN MURNI ANA! Tapi pemahaman ana tentang hadis ini SETELAH membaca syarahnya dan mendengarkan kajian dari para ustad serta membaca beberapa artikel dari internet. Maka jadilah apa yang ana akan tulis setelah ini….
Mengapa perlu membahas tema ini?
Ini adalah masalah yang sangat penting karena istri itu bukan seperti channel TV, apabila sudah bosan tinggal diganti. Banyak para pemuda yang masih bujang merasa kesulitan dalam hal ini. Bahkan lebih parah lagi terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Terkadang menyesal setelah menikah hingga ujungnya adalah cerai. Cerai dengan alasan tidak cocok.
Apa faedahnya?
Faedahnya banyak dan berhubungan erat dengan salah satu tujuan menikah yaitu meningalkan keturunan yang salih karena seorang istri bagai lahan tanaman. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang baik maka kita harus memilih lahan yang baik pula. Jadi tidak asal milih.. istri kitalah yang nantinya akan mendidik anak-anak kita.
Oke, Hadisnya apa?
Hadis tentang apa yang ente maksud?
Ya hadis tentang anjuran memilih istri yang baik.
O itu. Kalau hadisnya ini :
تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك
Artinya
Seorang wanita dinikahi karena 4 perkara : karena hartanya atau karena kedudukannya atau karena kecantikannya atau karena agamanya. Pilihlah karena agamanya maka kamu tidak akan merugi
Ah masa cuman 4 alasan aja? Alasan orang kan bermacam-macam…
Betul, hadis ini tidak membatasi 4 alasan saja tapi maksud hadis ini adalah umumnya seorang pria menikahi wanita karena salah satu atau lebih dari 4 alasan ini. Walaupun ada alasan tapi itu sedikit. Contoh : menikah karena MBA atau menikah karena berasal dari suatu pulau tertentu atau menikah karena pernah ditolong atau menikah karena sama-sama punya tompel di dahi.
Hmmm.. jadi pertama kali kita harus memilih karena agama ya…
Bukan begitu maksud hadis ini tap…
Lha kok bisa?
Iya sek bentar, ana belum selesai ngomong. Jadi maksud hadis ini bukan pertama kali kita harus memilih agama, bukan. Tapi maksud hadis ini adalah PRIORITAS UTAMA adalah agama. Bukan yang lain!
Ya sama aja… prioritas sama yang ana katakan tadi….
Ya beda, mas! Sampeyan iku piye? Beda antara ” pertama kali harus memilih karena agama ” dan ” prioritas utama adalah agama “. akan beda hasilnya nanti…
Jelaskan!
Jadi menurut buku yang pernah ana baca, pertama kali kita memilih calon istri karena KECANTIKANNYA. Baru setelah itu kita lihat agamanya, apakah baik atau buruk. Kalau agamanya baik, teruskan saja, maju dan jangan ragu. Tapi kalau agamanya jelek, langsung tolak aja tanpa basa-basi. Cari wanita yang cantik lain kemudian lihat agamanya. Cari sampai ketemu yang cantik dan agamanya baik. Itu namanya memprioritaskan agama. Sehingga kalau kita menolak seorang wanita memang karena agamanya buruk bukan karena alasan yang lain.
Kalau pertama kali harus memilih agama, hasilnya tidak seperti diatas.
Hat mitsal ! (kasi contoh – bhs arab, red)
Seorang pria memilih calon istri pertama kali karena agama. Setelah dikoreksi ternyata agama BAGUS. Dan setelah proses nadhor ternyata sang calon istri TIDAK CANTIK. Hati sang pria ini sudah gak sreg karena calon istrinya tidak cantik. Pengen nolak tapi pake alasan apa? Kurang cantik? Padahal agamanya bagus. Bingung kan. Kalau sampai ke pelaminan dikkawatirkan tidak bertahan lama karena dari awal sudah salah dan tidak cocok. Bedakan sama contoh yang di awal tadi.
Perkataan ente ini seakan bernada diskriminasi. Kesian dong wanita yang gak cantik…
Akhi, bukan itu maksud ana. Pada dasarnya semua wanita itu cantik karena gak ada wanita yang GANTENG. Kwkwkwk – just kidding. Maksud ana, cantik itu terbagi dua. Muttafaq (disepakati) dan relative.
Wueeh.. istilah apa lagi tuh?
Cantik muttafaq (disepakati) adalah cantik yang disepakati hampir semua orang pria maupun wanita. Seperti sebagian besar artis. Sedang cantik relative adalah cantik menurut beberapa orang saja sedang banyak orang mengatakan tidak cantik. Terkadang seorang mengatakan fulanah cantik, sedang yang lain tidak. Jadi bagi para wanita yang merasa kurang cantik, percayalah! Bahwa suami andalah yang akan mengatakan ” dirimu bagai bidadari yang turun untuk menemani jasadku, oh.. ” (sory, kata terakhir hanya untuk mendramatisir). untuk lebih jelasnya, coba baca artikel ini http://maherzen.com/cinta-itu-buta/
Kenapa harus cantik dulu? Kenapa tidak harta atau kedudukan atau yang lainnya?
Memilih alasan lain boleh saja asal prioritas utama tetap jatuh pada pilihan agama. Cuman para ulama menasehati untuk mencari yang cantik dulu karena faedahnya yang banyak. Agar sang suami betah dirumah, merasa sreg sama istrinya, agar betah memandangi istrinya. Apabila sang suami pulang dari kerja dengan keadaan capek, penuh masalah dan emosi, sampai dirumah ternyata istrinya sudah berdandan cantik maka hilanglah semua masalah tadi. Dirumah serasa di surga walaupun rumahnya terbuat dari gubuk.
Prioritas agama disini maksudnya apa? Apakah yang lulusan pondok? Atau yang bercadar?
Bukan, maksud dari “pilihlah karena agamanya” bukan “pilihlah karena dia anak pondok” atau “pilihlah karena dia bercadar”. Bukan juga yang ilmunya banyak.
Lha kan gak sama orang yang ilmunya banyak dan ilmunya yang sedikit..?
Betul, tapi ilmu yang banyak, anak pondok, bercadar, sering ikut kajian BUKAN STANDAR bahwa wanita itu agamanya baik. Itu semua cuman INDIKASI baiknya agama seorang. Artinya tidak semua yang bercadar, anak pondok, ilmunya banyak adalah baik agamanya. Belum tentu.
Terus maksud dari agama disini apa?
Menurut buku yang ana baca, maksud dari agama disini adalah akhlaq. Jadi arti hadis adalah pilihlah karena akhlaknya yang baik. Begitu.
Apa dalilnya?
Sabda rasul berbunyi :
الدين حسن الخلق
Agama itu adalah akhlak yang baik.
Oleh karena itu seorang wanita yang akhlaknya baik walaupun dia bukan anak pondok maka dia akan selalu nurut suaminya. Disuruh pake jilbab gede, oke. Disuruh pake cadar juga. Disuruh ikut kajian, no problem. Istri yang taat kepada suaminya. Dan belum tentu sebaliknya.. belum tentu lulusan pondok disuruh jilbab gede mau wa yang lain-lain
Dan ana banyak mendapatkan cerita tentang hal tersebut dari para orang tua ana.
Coba critain dung!
Semua cerita dibawah ini adalah nyata dan dapat dipercaya karena ana tau persis siapa orangnya.
Cerita pertama seorang pria menikahi seorang wanita lulusan pondok. Ternyata sang wanitanya mempunyai akhlak yang buruk. Pernah suatu saat mertuanya ( ibu dari suami ) dilempar pake kain pel. Mendengar itu bibi ana lansung marah sambil berkata “kalo itu iper ana dah tak bunuh”. Jadi lulusan pondok tidak menjamin bahwa akhlaknya baik.
Cerita kedua adalah seorang ustad. Seorang ustad yang terkenal di kotanya dan sering ngisi kajian. Dia mendapatkan istri lulusan pondok. Berjilbab gede dan bercadar. Yang membuat aku heran adalah setelah nikah sang istri berubah drastis. Dia tidak lagi memakai cadar tapi malah memakai kerudung biasa plus celana jeans. Sangat memalukan untuk istri seorang ustad. TAPI, bukan itu inti masalahnya. Ana yakin sang ustad sudah memperingatkan tapi apa daya seorang pria terkadang lemah didepan kaum hawa. Berarti istrinyalah yang tidak mau menurut suami.
Cerita ketiga seorang pria menikahi wanita yang cantik. Aku pun mengakui itu cantik. Tapi sekali lagi punya trouble dalam masalah akhlak. Dia suka berbohong dan memfitnah. Efeknya buruknya sampai pada anak-anaknya. Anaknya yang perempuan cantik-cantik tapi… sebagian ada yang menuruni sifat ibunya. Jadi cantik bukan segalanya kalau tanpa dibarengi akhlak yang baik.
Cerita keempat adalah seorang pria menikahi wanita kuliahan biasa. Gak pernah ikut kajian, bukan anak pondok, pake kerudung biasa. Tapi setelah menikah dia menuruti apa kata suaminya. Dia sekarang memakai cadar dan aktif ikut kajian padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali.
Cerita terakhir adalah teman ana sendiri yang menikah dengan wanita lulusan pondok. Dia terkenal baik di kalangan santriwati. Bahkan dikalangan para ustadzah. Orangnya pinter dan juara kelas. Beruntung temanku itu mendapat wanita seperti itu….. aku juga berharap mendapatkan yang seperti itu.
nb: ana lupa buku apa yang ana baca, sory…





